Pemuda Gayo Sampaikan Surat Protes Soal Tari Saman Ke Pangdam IM

Bismillahirahmanirahim
Banda Aceh, 23 Desember , 2010
No : 84/E/Sek/IPEGA Pusat/12/2010
Lamp : 1 (satu) berkas
Hal : NOTA PROTES TERHADAP PENYEBUTAN
REKOR “TARI SAMAN”

Kepada Yang Terhormat
Bapak Panglima KODAM Iskandar Muda
Di
BANDA ACEH

Dengan Hormat,
Teriring salam dan do’a semoga Bapak senantiasa dalam keadaan sehat dan tetap teguh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sehubungan dengan telah dilaksanakannya sebuah pergelaran seni pada tanggal 22 Desember 2010 yang menampilkan aksi seni berupa pertunjukan seni tari yang bernama “Tari Saman” maka melalui surat ini kami dari Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Gayo (PP IPEGA) menyampaikan beberapa poin keberatan terkait dengan pergelaran seni tersebut yaitu:

1. Kami menolak jika seni tari yang ditampilkan pada pergelaran seni tersebut disebut sebagai Tari Saman karena yang disebut dengan Tari Saman adalah Tari Saman yang berasal dari Gayo Lues dan/atau Lokop Serbejadi, Aceh Timar yang memiliki karakteristik tertentu. Dan dari kedua daerah tersebut lah sesungguhnya Tari Saman berasal. sekarang ini banyak daerah/daerah lain di Aceh dan/atau kelompok-kelompok seni tari di Aceh yang meniru-niru bahkan mengambil gerakan-gerakan Tari Saman yang asli ke dalam gerakan-gerakan Tari bentuk baru dengan mengatasnamakan Tari Kreasi Baru. dan yang kami lakukan ini adalah dalam rangka menjaga keaslian dan kemurnian Tari Saman yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia yang bersifat non kebendaan (intangible heritage).

2. Tari Saman yang asli merupakan Tari Saman yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut;
a. Memakai baju adat Gayo (khususnya baju adat Gayo Lues).
b. Menggunakan syair yang berbahasa Gayo.
c. Ditarikan/dibawakan oleh laki-laki.

3. Kami meminta pihak Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk tidak mencantumkan pergelaran seni pada tanggal 22 Desember 2010 tersebut sebagai Pemecah Rekor Pementasan Tari Saman karena Tari yang ditampilkan pada tanggal 22 Desember 2010 tersebut bukanlah Tari Saman karena tidak memenuhi kriteria/unsur sebagai Tari Saman. Dan kalaupun tetap ingin dicantumkan sebagai salah satu Pemecah Rekor Pementasan Seni Tari agar jangan disebut sebagai Tari Saman melainkan disebut dengan sebutan yang lain.
Demikianlah surat nota protes ini kami perbuat dan sampaikan, atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak kami ucapkan terima kasih.

PENGURUS PUSAT
IKATAN PEMUDA GAYO
(PP IPEGA) PERIODE 2005-2010

SABELA GAYO,S.H.,M.H. USMAN SIMPANG JERNIH
KETUA UMUM SEKRETARIS JENDERAL

Tembusan:
1. Menteri Pariwisata dan Kebudayaan R.I di Jakarta
2. Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jakarta
3. Kepala UNESCO Perwakilan Indonesia di Jakarta
4. Kepala Museum Rekor Indonesia (MURI) di Semarang
5. Seluruh Organisasi Mahasiswa/Pemuda Gayo di Seluruh Indonesia
6. Seluruh Organisasi Sosial Kemasyarakatan Gayo di Seluruh Indonesia.
7. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta
8. Ketua Majelis SARAKOPAT Ikatan Pemuda Gayo di Banda Aceh
9. Gubernur Aceh
10. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh
11. Bupati dan Ketua DPRK Gayo Lues
12. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gayo Lues
13. File,–Soal-Tari-Saman-Ke-Pangdam-IM-.html

Sumber:http://www.alabaspos.com/view.1115.1021.Pemuda-Gayo-Sampaikan-Surat-Protes-Soal-Tari-Saman-Ke-Pangdam-IM-.html

Akhirnya Melalui SAMAN, Aceh pun menghabisi Gayo

Akhirnya Melalui SAMAN, Aceh pun menghabisi Gayo

by TARI SAMAN on Wednesday, December 22, 2010 at 9:32pm

Tadi pagi 22 Desember 2010, adalah hari yang merupakan sejarah gemilang bagi Aceh dan menjadi tonggak sejarah keterpurukan Gayo.

Pagi ini, dengan disponsori oleh Kodam Iskandar Muda, Aceh sukses mementaskan tari saman kolosal dengan 3000 penari. Sebuah event yang dimaksudkan untuk memecahkan rekor MURI.

Video yang menampilkan pementasan ini dapat disaksikan di sini :http://www.youtube.com/watch?v=nfJWoIgXCck&feature=player_embedded#!

Pementasan tari kolosal ini juga bisa jadi dimaksudkan sebagai Show of force kepada Malaysia yang sudah mulai mencoba-coba mengklaim tarian ini yang seperti biasa menjadikan alasan kedekatan budaya antara Malaysia dan Sumatra dan banyaknya orang Aceh yang sudah menjadi warga negara Malaysia yang menarikan Saman sebagai dasar klaimnya.

Kalau benar ini alasannya, maka pementasan tari Saman kolosal ini adalah sebuah ironi. Ini menjadi Ironi, karena sebetulnya orang Aceh sendiri mencaplok tari Saman ini dari Gayo, suku minoritas yang terpinggirkan baik secara budaya maupun politik di daerah ini.

Tapi kalau pernyataan seperti ini kita sampaikan di depan orang Aceh, tentu saja mereka akan langsung menolak, karena menurut mereka, Aceh tidak pernah mengklaim SAMAN sebagai milik Aceh, tapi saman menjadi milik Aceh karena Gayo berada dalam wilayah pemerintahan Aceh.

Benarkah demikian adanya?…mari kita uji.

Cara yang paling mudah menguji benar tidaknya pernyataan ini bisa kita lakukan dengan meng-klik link yang menampilkan tarian saman kolosal ini http://www.youtube.com/watch?v=nfJWoIgXCck&feature=player_embedded#!

Kalau kita melihat para penari dalam video itu, maka kita akan melihat dengan jelas bahwa SAMAN yang ditampilkan dalam pementasan itu tidak ditarikan dalam bahasa Gayo, semua penari berpakaian adat Aceh, bahkan kita tidak melihat satu pun penari yang memakai pakaian adat Gayo. Lebih fatal lagi tidak sedikit dari penari ini adalah perempuan.

Ini fatal, karena menurut Yusra Habib Abdul Gani, seorang cendekiawan Gayo yang berdomisili di Denmark; Saman, bukanlah kreasi seni tari biasa sebagaimana selama ini dipahami orang. SAMAN hanya bisa dimainkan dalam bahasa Gayo. Saman yang bisa dipentaskan oleh siapa saja dan dalam bahasa apa saja adalah sebuah kesalahan fatal sekaligus pelecehan terhadap missi dari Saman itu sendiri. Tari sejuta tangan ini tidak bisa dicerna dan dihayati, sekiranya para penarinya tidak memahami keseluruhan gerak yang diperagakan, sebab Saman adalah tari yang mengandung konsep jihad yang disimbulkan lewat irama dan gerak. Penjelasan lengkap mengenai pendapat Yusra Habib Abdul Gani, silahkan klik di sini http://www.acehvision.com/2009/11/konsep-jihad-dalam-saman.html

Jadi meskipun mungkin KLAIM secara VERBAL memang tidak ada, tapi dengan membuat pegelaran SAMAN yang diikuti 3000 orang, dengan menggunakan bahasa ACEH sebagai bahasa pengantar, dengan penari yang berpakaian adat ACEH, apa yang mau ditunjukkan oleh orang yang menggelar pementasan ini?

Tentu saja yang mau ditunjukkan adalah; SAMAN itu Budaya ACEH bukan budaya GAYO…

Klaim yang menyatakan bahwa Aceh tidak bermaksud meminggirkan Gayo melalui Saman, semakin sulit untuk menemukan argumen sahihnya ketika kita melihat, setiap kali Aceh mengirimkan duta seninya ke dunia luar dan menarikan SAMAN, maka yang dikirim adalah penari SAMAN yang menarikan SAMAN dengan pakaian adat dan bahasa Aceh, bukan Gayo.

Untuk membuktikannya silahkan anda buka youtube, dan saksikan sendiri ada berapa banyak tari SAMAN yang ditarikan orang di luar Aceh dengan menggunakan Bahasa Gayo sebagai pengantar dan pakaian adat Gayo secara kostum.

Tari SAMAN yang asli adalah yang ini http://www.youtube.com/watch?v=-LikgiZn6jU

Tapi kalau kita lihat di Youtube, kalau tari SAMAN ditarikan di luar Aceh bahkan di luar negeri maka yang muncul adalah tari saman seperti di bawah ini

http://www.youtube.com/watch?v=87ZIfpL9nSk&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=87ZIfpL9nSk&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=GsIjWnqn8_E&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=-3GVxxDf9X8&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=v4-nYggR9KM&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=oilkOe1WWww&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=cPAD6AQV2EM&feature=related

Jadi siapapun boleh mengatakan Aceh tidak berniat meminggirkan Gayo, tapi kenyataan yang kita lihat adalah sebaliknya. Kenyataannya, saat ini, di provinsi Aceh, identitas GAYO sedang dihabisi secara SISTEMATIS.

Sekarang ketika Saman sudah menjadi lebih populer ditarikan dalam bahasa dan pakaian adat Aceh, kita bisa menyaksika para budayawan Aceh pun mulai membuat catatan ‘sejarah’ untuk membuktikan klaim bahwa SAMAN adalah milik SAH ACEH, bukan gayo, tulisan seperti ini misalnya bisa kita dapati dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Thayeb Loh Angen yang menyatakan bahwa Tari Saman diciptakan oleh seorang ulama besar dari Samudra Pasai (Pase) http://www.kabargayo.com/2010/08/saman-dan-seudati-dua-tarian-kembar.html (saya sendiri tidak paham bagaimana cara yang bersangkutan melakukan penelusuran sejarahnya, supaya klaim ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah)

Karena kenyataan bahwa Saman sudah menjadi milik Aceh sudah tidak dapat lagi dipungkiri. Untuk menyenangkan orang Gayo, ada yang mengatakan kalau PBB sudah mengakui tari Saman sebagai milik Gayo, tapi ketika kita minta yang bersangkutan untuk membuktikannya, dia pun menghilang tanpa bisa berkata apa-apa. Sebab informasi ini memang sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan karena kenyataannya SAMAN baru didaftarkan ke PBB oleh pemerintah Aceh dengan nomer seri nomor seri 00001 dan tinggal menunggu penetapan (lihat : http://koetaradja.wordpress.com/2010/08/11/aceh-daftarkan-tari-saman-ke-pbb-sebagai-tari-dunia/). Tapi itupun saya yakin sekali kalau tari SAMAN yang didaftarkan ini adalah SAMAN ACEH, bukan SAMAN GAYO

Klaim budaya Gayo sebagai budaya Aceh ini bukan hanya terjadi pada Saman, tapi juga terjadi terhadap karya seni Gayo lainnya, yaitu seni bordir Kerawang Gayo yang kini lebih dikenal orang sebagai kerawang Aceh.

Ironisnya, entah karena tidak berdaya atau karena merasa itu tidak terlalu penting untuk dipersoalkan. Tidak banyak orang Gayo yang merasa terusik dengan fenomena pengklaiman budaya Gayo oleh Aceh ini. Padahal sebenarnya hal ini sangatlah berbahaya, karena masalah ini berkaitan dengan eksistensi GAYO sendiri. Saat ini mungkin, hal-hal seperti ini belum begitu terasa. Tapi kalau ini terus dibiarkan lama-lama, Gayo dan segala kekhasannya akan hilang dan melebur menjadi satu Aceh Raya, sebagaimana yang kita saksikan terjadi di Malaysia, ketika suku bugis, minang, jawa dan ras-ras lain asal bumi nusantara hilang ditelan satu MELAYU RAYA.

Sekarang kita saksikan, arah menuju ke sini sudah semakin nyata, buktinya sekarang di facebook ini saja kita melihat sudah mulai banyak orang Aceh yang berani terang-terangan membuat klaim bahwa Gayo adalah pendatang di bumi Aceh, sehingga wajar hak-hak yang diterima oleh Gayo, kurang dibanding yang diterima oleh orang Aceh lainnya.

Wassalam

Win Wan Nur

Manusia Suku GAYO

Sumber: Page Tari Saman

Sejarah Singkat Tari Saman

Saman,Tari saman, saman dance, Gayonese Tradisional Dance

Nama Karya Budaya: Saman

Nama-nama Lain Karya Budaya : Saman Jejunten, Saman Njik, Saman Ngerje (Umah Sara), Bejamu Besaman (Saman Sara Ingi, Saman Roa Lo Roa Ingi)

Nama Orang yang Melaporkan Karya: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh

Tempat dan Tanggal Laporan Karya Budaya: Blangkejeren, 14 Februari 2010

Sejarah Singkat Karya budaya:

Saman adalah salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu).

Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Saman berasal dari kesenian yang disebut pok ane yang artinya menepuk tangan sambil bernyanyi. Menurut sejarahnya, Saman dikembangkan oleh seorang tokoh Islam yang bernama Syeh Saman. Selain sebagai penyiar agama Syeh Saman juga seorang seniman sehingga namanya kemudian didedikasikan sebagai nama tarian Saman. Dalam perkembangan selanjutnya kesenian ini digunakan sebagai media dakwah untuk pengembangan agama Islam. Sebagai media pengembang agama Islam, sampai kini masih kita rasakan dalam syair-syairnya, terutama dalam langkah-langkah awal selalui dimulai dengan salam. Dalam tulisan Mudha Farsya (dalam Haba, No. 38/2006) disebutkan bahwa tari saman lahir lebih kurang pada abad ke XIV. Tetapi jika tarian tersebut dijadikan sebagai alat dakwah penyebaran Islam, maka tarian tersebut telah ada sebelum Islam masuk ke Tanah Gayo. Hingga saat ini belum ditemukan literature tentang Syech Saman yang diyakini sebagai pengembang tarian Saman tersebut. Snouck Hurgronje dalam perjalanannya ke Tanah Gayo pada awal 1900-an (Tanoh gayo dan Penduduknya, 1996), mengatakan bahwa tarian Saman ini dilakukan pada saat akhir bulan puasa oleh para anak muda (laki-laki).

Dalam perkembangan selanjutnya, saman dijadikan sebagai kesenian yang diikutsertakan dalam festival Pekan Kebudayaan Aceh (PKA ke-2) tahun 1972 di Banda Aceh. Pada waktu itu saman menjadi salah satu tari favorit sehingga digelari “tari tangan seribu” oleh ibu Tien Suharto. Sejak saat itu tari Saman mulai dikenal luas da diundang dalam pembukaan Taman Mini Indonesia Indah tahun 1974. Kemudian Saman diundang ke berbagai acara tngkat nasional hingga misi kesenian ke luar negeri. Pada perkembangan selanjutnya, saman dijadikan sebagai komoditas komersial.

Berdasarkan hasil survey lapangan menunjukkan bahwa saman mengalami degradasi nilai dan maknanya. Pendangkalan nilai dan makna ini akan mengancam keberadaan saman. Pengaruh televisi, internet, budaya asing dan bentuk-bentuk teknologi lain adalah factor penyebab utama degradasi nilai dan makna tersebut. Hal ini merupakan ancaman berat terhadap kelestarian saman asli di Kabupaten Gayo Lues. Hal ini jelas akan membawa dampak buruk bagi saman asli yang tersebar di luar Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.

Uraian/Deskripsi Singkat:

Saman adalah salah satu tradisi yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo Lues, di Kabupaten Gayo Lues, masyarakat Gayo di Kecamatan Serbejadi (Kab. Aceh Timur), dan masyarakat Gayo di Kecamatan Tamiang Hulu (Kab Aceh Tamiang). Saman adalah sebuah permaianan tradisi yang biasa dilakukan oleh anak-anak hingga dewasa pada saat mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri berlatih Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran lam dan lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Keberadaan saman pada masyarakat Gayo merupakan sebuah tradisi yang turun temurun dan menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Saman ada dan hidup pada masyarakat Gayo Deret (Gayo Blang) dimanapun mereka berada. Selain dilaksanakan di kampung halamannya, Saman juga dilakukan didaerah-daerah perantauan mereka, misalnya di Banda Aceh, Medan, dan juga di Jakarta. Di kampung halamannya, Saman dimainkan mulai dari tingkat jorong (dusun) hingga tingkat kabupaten. Saman bejamu dilakukan dengan mengundang saman dari daerah lain untuk bersama-sama bermain saman.

Saman adalah bagian dari budaya masyarakat Gayo yang berfungsi sebagai media komunikasi, ajang silaturahmi, dan sebagai hiburan. Umumnya Saman dilakukan di bale saman atau di lapangan kampung yang ditampilkan pada hari-hari besar seperti upacara perkawinan, hari raya dan lain sebagainya.

Saman dilakukan oleh kaum laki-laki yang umumnya usia muda. Mereka berlatih saman sejak usia dini di mersah. Anak-anak yang sedang mengaji di mersah umumnya akan ber-saman sebagai salah satu media bermain mereka.

Jenis-jenis Saman diantaranya adalah Saman Jejunten, yaitu saman yang dilakukan malam hari dengan duduk di atas pohon kelapa yang ditebang. Saman Njik, yaitu saman yang dilakukan pada waktu istirahat pada kegiatan menggirik padi. Saman Ngerje (Umah Sara), saman yang dilakukan oleh pemuda pada acara pesta perkawinan. Bejamu Besaman, yaitu saman yang dilakukan dengan mengundang grup saman dari kampung lain. Bejamu Besaman dilakukan dengan dua cara, yang pertama Saman Sara Ingi (Saman satu malam) yaitu saman yang dilakukan semalam suntuk. Saman ini dilakukan pada hari besan keagamaan (Aidul Fitri, Aidul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kedua, Saman Roa Lo Roa Ingi (Saman dua hari dua malam), saman ini dilakukan secara terus menerus . Saman Bale Asam adalah saman yang dilaksanakan pada siang hari dalam rangka peringatan hari besar. Saman ini dilaksanakan secara bersama-sama di sebuah lapangan dan setiap grup bebas memilih lawannya. Biasanya panitia acara akan mengaundang grup saman dari berbagai kampung untuk bertemu dan bertanding.

Tarian Saman ini terdiri dari Keketer, Rengum, Salam, Gerakan Tari, Ulu Ni Lagu, Anak ni Lagu, Saur, Syair, Guncang dan Penutup. Di dalam syair Saman banyak terdapat sisipan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Pada galibnya sebelum tarian Saman dimulai, sebagai mukaddimah terlebih dulu seorang tua mewakili masyarakat setempat di mana tarian Saman diadakan, memberi sepatah kata (keketar) yang ditujukan kepada pemain dan penonton. Keketar adalah pidato yang diucapkan oleh seorang tokoh masyarakat atau pemuka adat yang memberikan nasehat kepada pemain Saman dan penonton.

Dalam tarian Saman terdapat Rengum yaitu mukaddimah yang berupa tiruan bunyi yang diucapkan bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan Salam yang diucapkan oleh salah seorang pemain (penangkat/ Syech). Setelah itu disebut Ulu Ni Lagu atau permulaan tari. Tahap selanjutnya adalah lagu dan gerakan-gerakan tari. Selanjutnya disebut Anak Ni Lagu adalah gerak tangan yang ringkas dan pendek yang berisi syair yang terdiri dari Saur dan redet. Begitu lagu dinyanyikan pemain membuat Saur lalu disaurkan bersama-sama. Beberapa kali saur diselingi syech menyanyi melengking, dua atau tiga kali lalu naik atau berdiri di atas lutut dan dari syech itulah diberi isyarat lalu disambung dengan Guncang. Guncang ini dilakukan dengan berdiri di atas lutut. Apabila duduk bersimpuh dengan adegan yang sangat cepat sekali dinamakan gerutup. Gerutup dilakukan pada posisi duduk. Dalam satu lagu, hal demikian terus dilakukan berkali-kali yang kemudian berubah berpindah dengan irama atau lagu lain. Dalam penutupan tarian biasanya dilakukan surang-saring atau dengan melakukan tepuk tangan dengan nyanyian bersama disertai saur hingga pertunjukan berakhir.

Komposisi pemain saman, yaitu ;

Penangkat : orang yang mengatur gerakan dan ritme saman, posisi berada di tengah-tengah pemain.

Pengapit : tugasnya mengingatkan penangkat apabila lupa gerakan berikutnya, umumnya 2 orang yang posisinya di kanan dan kiri penangkat.

Penyepit : membantu pengapit untuk mengingatkan jika ada kesalah gerak, umumnya dipilih orang yang bersuara merdu.

Penupang : menjaga keseimbangan kawan atau menopang temannya agar keseimbangan terjaga.

Contoh :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

• Nomor 9 disebut Pengangkat

Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman, yang menentukan gerak tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu / pertandingan) • Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit

Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak tari maupun nyanyian/ vokal

• Nomor 2-7 dan 11-16 disebut Penyepit

Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.

• Nomor 1 dan 17 disebut Penupang

Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan menupang/ menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.

Nama komunitas: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Gayo Lues

Guru budaya: Ali Husen, H. Rajab Abdullah, Abd. Mutholib

Kontributor: Q

Foto: Saman Gayo diperagakan oleh Grup Saman Binaan Pemda Kab. Gayo Lues 12 Februari 2010 di Bale Musara, Blangkejeren.

Fotografer: Dede (STSI Bandung)

Sumber kontributor: Hari Waluyo

Sumber: http://www.budaya-indonesia.org/iaci/Tari_Saman_Gayo

Kemenbudpar : Yang Diakui UNESCO Saman Orisional,”Gayo”

Diakui UNESCO Saman Orisional,”Gayo”

Published on April 29, 2011 by Lovegayo  ·

Jakarta | Lintas Gayo :

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyatakan tari saman yang berasal dari Gayo NAD yang ditarikan oleh para penari laki-laki telah didaftarkan dan segera diakui oleh Unesco.

“Jenis tari Saman yang segera diakui Unesco adalah versi aslinya yang berasal dan dikembangkan di Gayo yang ditarikan oleh laki-laki,” kata Direktur Jenderal Pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Kamis. (28/4) Ia mengatakan, pihaknya melalui Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) telah mengkaji dan melengkapi persyaratan pendaftaran tari Saman agar dapat dikukuhkan sebagai warisan budaya oleh Unesco.

Setelah melalui berbagai proses, tari saman tersebut segera ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Unesco pada akhir tahun ini. “Memang pada perkembangannya tari Saman itu diadopsi dan dikembangkan namun tetap originalnya itu yang kami daftarkan,” katanya.

Rencananya Tari Saman yang berasal dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) akan diakui dan dikukuhkan oleh badan PBB, UNESCO, sebagai warisan budaya dunia tak benda pada November 2011. Dengan segera diakuinya Tari Saman maka sudah semakin banyak karya budaya bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO termasuk sebelumnya wayang, keris, batik, dan angklung.

Badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya (UNESCO) itu akan mengumumkan pengakuan terhadap Tari Saman sebagai intangible heritage di Bali.

Perjuangan untuk mendaftarkan tari Saman tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu hingga akhirnya segera diakui masuk dalam “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity”.

Pihaknya mencatat warisan dunia sampai saat ini sudah sebanyak 890 situs dengan 689 berupa warisan budaya, 176 warisan alam dan 25 campuran antara warisan budaya dan warisan alam. Di antara jumlah itu, warisan dunia yang dimiliki Indonesia sudah sebanyak 11 buah, 4 di antaranya berupa alam, 3 cagar budaya, dan 4 karya budaya takbenda.

Untuk warisan dunia berupa alam terdiri atas Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Lorentz, Papua dan Hutan Tropis Sumatera (Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan).

Sementara untuk cagar alam yakni Kompleks Candi Borobudur yang diakui UNESCO sejak 1991, Kompleks Candi Prambanan (1991) dan situs prasejarah Sangiran. Karya budaya takbenda milik Indonesia yang sudah dan akan diakui UNESCO yakni wayang (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2003), keris (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2005), batik (representative list of the intangible cultural heritage of humanity, 2009) dan angklung (representative list of the intangible cultural heritage of humanity, 18 November 2010). (Pusformas)

Source: http://www.lovegayo.com/kemenbudpar-yang-diakui-ucesco-saman-orisionalgayo/

Juli 2011, Saman Sara Ingi di Jakarta

Saman Sara Ingi di Jakarta

Published on April 25, 2011 by Lovegayo

Jakarta | Lintas Gayo : Pertandingan Saman Sara Ingi kembali digelar pada Juli 2011 mendatang di Anjungan Aceh, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kali ini oleh Ikatan Mahasiswa Gayo Lues (IMGL) Jakarta.

Menurut, Ketua pelaksana pertunjukan tersebut, Burhan (25/4) di Jakarta, Saman Sara Ingi merupakan salah bentuk Saman yang dipertandingkan di Gayo Lues. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat silaturrahmi masyarakat Gayo di perantauan, memperkenalkan Saman, Gayo, dan Aceh.

Disamping itu, tambah Burhan, yang juga Ketua Sanggar Kepies Gayo Jakarta, juga bertujuan untuk menyambut nominasi penetapan tari Saman sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh badan dunia UNESCO.

“Kita ingin, masyarakat luar tahu tari Saman yang sebenarnya bukan  saman-samanan. Tari Saman harus ditarikan laki-laki, bukan perempuan. Bergerak khas Saman, berbahasa Gayo, dan memakai baju kerawang Gayo. Saman yang ada di luar Gayo sekarang sudah jauh sekali dari Saman di Gayo Lues. Jangan sampai kesalahan yang ada sekarang jadi pembenaran pada masa-masa mendatang,” tegas Burhan.

Dijelaskan, pertandingan tersebut akan mempertemukan Sanggar Kepies Gayo (Jakarta) versus Sanggar Seribu Bukit (Banda Aceh).

Direncanakan, pembukaannya akan dibuka langsung Kementerian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia (RI) dengan tema yang diangkat adalah “Kunul Sara Duk, Ratip Sara Anguk.”

Selain pertandingan Saman,  diadakan pula talk show Saman yang menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Dr. Rajab Bahry (Dosen Universitas Syiahkuala), Ibrahim yang dikenal dengan Rone Runang (Tokoh Masyarakat), Drs. Ridwan Salam (Penulis Buku “Tari Saman”), dan Drs. Isma Tantawi, M.A. (Dosen Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara).

“Kita juga akan tampilkan Didong Nalo, Tari Bines, Tari Turun Ku Aih, Tari Guel, Dabus, dan pementasan Saman Pemerintah Kabupaten Gayo Lues sebagai grup Saman bintang tamu.(Win Kin Tawar).

* Sumber LG

* Credit To Page Tari Saman

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.